[info] Shalat Tahajud Membebaskan Stress

Posted on Updated on

Al-Qur’an menggambarkan stress ini dengan : “Dijadikan-Nya dadanya sesak dan sempit, seperti naik ke langit.” [QS. Al-Anam 6:125]. Kemudian dalam surat Thaha 124, orang yang setress itu sebagai orang yang mempunyai masyatan dhaka (kehidupan yang sulit atau sempit), sehingga kehilangan sakinah (ketentraman), dan dalam menjalani kehidupan serba salah dan sempit. Menurut dosen IAIN Surabaya Mohammad Sholeh : “Orang yang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi

Lebih jauh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap peningkatan perubahan response tubuh imonologik : Suatu pendekatan psikoneuroimunologi“, Sholeh menyebutkan : “Jika Anda melakukan shalat tahajud secara rutin, benar-benar khusuk dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker.” Perlu diketahui, melalui desertasinya itu pula Sholeh telah meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana universitas Surabaya beberapa waktu lalu.
Sebelum kita melangkah jauh dengan bahasan penelitian desertasinya Sholeh, kita menyadari sepenuhnya, antara manusia dan Tuhan hanya terdapat dua hijab, kesehatan dan kemakmuran, dimana keseluruhan yang lainnya dalam hidup dipengaruhi dari dua hal tersebut. Misalnya seseorang yang memiliki kemakmuran akan berkata : “di manakah Tuhan ? Aku tidak tahu dimanakah dia, aku tidak dapat melihatnya.” Dan orang seperti itu ketika didera luka dan penyakit, dia akan mulai meratap : “Ya Tuhan, …” Lalu terbukalah rahasia kedekatannya dengan Tuhan. Diantara itu pula, keinginan akan kemakmuran, kekayaan yang tiada batasnya, segalanya seakan dapat ditentukan sendiri, akan membuka peluang stress (jiwa menjadi sakit), kemudian menimbulkan penyakit datang silih berganti, bahkan tumpang tindih, yang biasa disebut penyakit konflikasi. Sungguh dalam kehidupan memerlukan qana’ah (kekayaan jiwa)”, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Bukankah kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” Qana’ah terjadi, ketika seseorang itu mampu menyamakan nalar dan keinginan, dengan peroleha yang kita terima.

Dalam mencapai qana’ah itulah, Mohammad Sholeh menempatkan shalat tahajud membuat seseowang yang melaksanakannya, mendapatkan maqam (tempat) terpuji disisi Allah Al-Qur’an, yang sangat penting dalam kesehatan manusia. Maha benar Allah dengan firman-Nya : “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu : mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” [QS. Al-Isra’ 17:79].

Namun selama ini, menurut Sholeh, shalat tahajud dinilai hanya merupakan ibadah shalat tambahan atau shalat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinyu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas secara medis shalat itu menumbuhkan respon ketahanan tubuh, khususnya pada imunoglobin M, G.A dan limfositnya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang selama yang dihadapi manusia.

Selama ini, menurut Sholeh, orang melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya shalat tahajud dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang misteri, dapatlah dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya bisa diukur dengan kondisi tubuh yang pada kondisi normal jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter, sedangkan pada malam hari setelah pukul 24.00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas (karena tertekan), begitu pula sebaliknya.” jelas Mohammad Sholeh yang temuannya ini berdasarkan penelitian terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Ternyata dari penelitian itu, dari 41 siswa hanya 23 orang yang mampu bertahan menjalankan shalat tahajud selama sebulan penuh. Kemudian setelah diuji lagi tinggal 19 orang yang bertahan shalat tahajud selama dua bulan. Shalat dimulai 02.00 sampai dengan pukul 03.00 sebanyak sebelas rakaat, masing-masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat.

Selanjutnya hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang melaksanakan shalat tahajud. Mereka yang rajin dan ikhlas bershalat tahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menanggulangi berbagai masalah yang dihadapai dengan stabil. Mohammad Sholeh menyimpulkan : “Shalat tahajud selain bernilai ibadah, sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang mempengaruhi kontrol kognisi, yang bermanfaat dalam memperbaiki persepsi dan motivasi positif, sehingga dapat menghindarkan seseorang dari stress.” Dengan shalat tahajud yang khusuk, membuat seseorang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Hal seperti ini pulalah yang meyakinkan seorang Doktor Amerika, sehingga ia memeluk agama islam, kemudian setelah islam ia membuka pengobatan melalui Al-Qur’an. kajian pengobatan melalui Al-Qur’an menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an, di antaranya berpuasa, shalat tahajud, madu, biji hitam (jadam) dan sebagainya.

Doktor Amerika itu lebih jauh menjelaskan, setelah melakukan kajian syaraf, terhadao beberapa urat di dalam otak manusia tidak dimasuki oleh darah, padahal otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Setelah ia melakukan kajian, akhirnya disimpulkan, darah tidak masuk ke otak ketika seseorang tidak melakukan sujud, yaitu shalat. Darah akan memasuki bagian urat syaraf tersebut, mengikuti kadar shalat lima waktu yang diwajibkan Islam dan shalat tahajud. Sungguh makhluk Allah Al-Qur’an yang bernama manusia, jika tidak shalat, walaupun akal mereka berfungsi secara normal, tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan kehilangan pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Inilah yang dapat menyuburkan bibit setress tumbuh berkembang dalam diri manusia, menyusul berbagai penyakit lain.

Salah seorang psikiater terkenal, Dr. Carl Jung dalam bukunya berjudul “The Modern Man In Search of Spirit“, di mana ia menceritakan telah mengobati ratusan pasien, yang usianya tiga puluh lima tahun ke atas, setelah berkonsultasi lalu mengembalikannya kepada agama sebagai pandangan hidup. Dr. Carl Jung mengatakan : “Setiap dari mereka yang jatuh sakit, karena mereka kehilangan apa yang telah diberikan agama kepada orang-orang beriman. Dan orang yang belum mampu mengembalikan keimanannya yang sejati, tidak akan bisa disembuhkan.”

Sebagaiman Alla Al-Qur’an mengingatkan : “Dan, barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” [QS. Thaha 20:123]

Wallahu’alam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s